Awalnya dikembangkan oleh DuPont Corporation pada awal tahun 1920-an, nilon adalah kain sintetis yang terdiri dari serat panjang dan tipis yang dikeraskan dengan cara ekstrusi. Ini adalah salah satu bahan paling serbaguna yang tersedia untuk produksi kain, dan digunakan dalam berbagai macam aplikasi. Selain pakaian, nilon juga digunakan dalam tenda, payung, dan penutup furnitur luar ruangan. Ini juga merupakan salah satu kain paling tahan lama yang ada, dan kinerjanya mengungguli serat buatan lainnya dalam hal ketahanan terhadap bahan kimia.
Nilon adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang molekul berbasis karbon. Ia juga dikenal sebagai monomer heksametilenadiamin, atau asam diamina. Selama proses menggambar, molekul polimer disusun dalam struktur paralel, yang memungkinkannya diregangkan untuk meningkatkan kekuatan dan elastisitasnya. Serat yang dihasilkan kemudian siap untuk dipintal menjadi kain.
Kain nilon dibuat dengan memadukan berbagai kategori monomer untuk menghasilkan berbagai produk berbeda. Kain nilon yang paling umum terbuat dari monomer poliamida yang diekstraksi dari minyak mentah. Kain yang dihasilkan ringan, tahan lama, serta tahan terhadap air dan minyak. Ini juga tahan abrasi. Kekuatan tariknya yang tinggi menjadikannya pilihan populer untuk aplikasi industri.
Nilon sering kali dipadukan dengan serat lain, seperti katun dan spandeks, untuk menghasilkan tekstil dengan beragam karakteristik berbeda. Proses ini memungkinkan terciptanya serat nilon yang tahan lama dan murah. Selain itu, serat nilon bisa diwarnai dengan berbagai warna. Nilon juga tersedia dalam kain daur ulang, yang memungkinkan desainer menggunakan fungsinya untuk membuat item baru.
Nilon juga digunakan dalam kain untuk pakaian kenyamanan atletik, pakaian renang, dan pakaian dalam. Nilon adalah bahan tahan lama yang tahan terhadap jamur, jamur, dan air. Ini juga tahan terhadap pemutih. Ini juga tahan abrasi dan sangat ringan, sehingga ideal untuk pakaian, sepatu, dan pakaian jadi.
Selama Perang Dunia II, nilon digunakan untuk membuat parasut militer, dan populer di pasar militer. Parasut juga digunakan kembali menjadi pakaian setelah perang. Pada tahun 1980an, banyak
kain nilon operasi produksi dipindahkan ke Cina. Perekonomian global telah beralih dari Amerika Serikat sebagai basis manufaktur, sehingga banyak perusahaan internasional mulai memproduksi nilon di Tiongkok.
Kain nilon terbuat dari berbagai jenis monomer, dan masing-masing monomer memiliki kualitas uniknya sendiri. Misalnya, monomer heksametilenadiamin diekstraksi dari minyak mentah, dan kemudian direaksikan dengan asam adipat untuk menghasilkan nilon.
Kain nilon digunakan dalam berbagai aplikasi, namun kegunaannya yang paling populer adalah pakaian atletik, gaun, pakaian dalam, pakaian renang, dan ponco. Nilon merupakan bahan higroskopis yang dapat menyerap kelembapan sehingga cocok digunakan untuk pakaian di berbagai cuaca buruk. Nilon juga tahan lama dan tahan air, panas, dan minyak. Namun, bahan ini tidak dapat terurai secara hayati. Nilon membutuhkan waktu hingga 50 tahun untuk terurai.
Kain nilon dapat didaur ulang dan digunakan kembali, tetapi prosesnya sangat boros energi. Proses ini juga melepaskan gas rumah kaca ke udara. Scrap Exchange memiliki program untuk mendaur ulang nilon menjadi produk baru.